Gosipnesia.com, Solo – Merias pengantin agung adat jawa apalagi pengantinnya masih keturunan bangsawan merupakan pekerjaan yang tidak bisa di lakukan oleh sembarangan orang. Para periasnya harus ikut nglakoni, menjalankan ritual adat dengan berpuasa ataupun pantang untuk melakukan perbuatan tertentu hingga riasannya dapat berhasil seindah mungkin.

Pekerjaan merias pengantin di akui oleh R.Ay Dinar Woeryanto (61) perias yang melakukan paes agung calon pengantin putri R.Ay Retno Astrini, bukanlah pekerjaan yang bisa di lakukan sembari main-main. “Pekerjaan merias, apalagi yang di rias masih keturunan raja, bukan pekerjaan mudah. Para periasnya harus menjalankan laku tirakat serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela,” ujar beliau yang telah menjadi perias pengantin agung di Keraton Mangkunegaran, Solo, sejak usia 19 tahun.

Demikian pula laku tirakat sejenis juga di lakukan oleh perias calon pengantin putra Pangeran Tenku Abu Bakar, RM Soedjatmiko Hamidjojo. Perias pengantin haruslah keluarga yang harmonis. Pasangannya masih hidup serta rukun membina keluarga dari pengantin baru sampai usia senja sebagai kakek nenek.

Setidaknya seperti pada keluarga Dinar – Woeryanto. Pasangan perias pengantin Jawa gaya Mangkunegaran itu telah membina rumah tangga harmonis selama 42 tahun. Pasangan yang masih kerabat dekat Mangkunegaran itu di karuniai 5 putra dan 4 cucu.

Potret R.Ay Dinar Woeryanto, perias senior dari Mangkunegaran. Foto: Pribadi

Pada awalnya belum mengenal paes

Menceritakan asal mulanya hingga terjun dalam olah paes pengantin, beliau mengatakan semula ia belum mengenal cara untuk melakukan paes pengantin. Sampai pada hari pernikahannya sendiri keterampilan untuk paes pengantin belum ia dalami.

Namun entah suatu saat pada usianya yang ke-19 tahun keinginan untuk mempelajari seni paes muncul begitu kuat. Bahkan anehnya, tanpa berguru secara khusus oleh seni paes dan seluk beluknya seakan tergambar di pelupuk matanya.

“Datang seperti wahyu,” ujarnya sembari menambahkan ketika penerima ‘wahyu’ itu ia telah menikah. Hampir 3 tahun dan telah berputra 2 orang.

Setelah menerima ‘wahyu’ paes itu banyak orang yang berguru kepadanya. Demikian pula banyak pejabat penting yang memerlukan pertolongan beliau ketika mempunyai hajat mantu. Apalagi ibu rumah tangga yang berdomisili di Kampung Gremet, Manahan, Solo itu bukanlah orang yang mau mengkomersilkan ketrampilan yang di miliki.

“Dalam melakukan paes penganting agung, pikiran harus jernih, ikhlas. Jangan berpikiran yang macam-macam apalagi masalah honor atau dengan kata lain gaji,” ujarnya di Pendopo Mangkunegaran.

R.Ay Dinar Woeryanto saat merias. Foto: Pribadi

Mengenai busana calon pengantin

Ketika di singgung busana yang di pakai calon pengantin, perias senior dari Mangkunegaran itu mengatakan sampai sekarang belum ada dawuh dari Istana.

“Yang jelas busana pengantin adalah busana khas Mangkunegaran,” ujar beliau tanpa memberi keterangan lebih rinci. Menurut sumber untuk setiap tahapan acara pasangan pengantin mengenakan busana berlainan.

Padahal dalam urutan upacara perkawinan pengantin agung yang berlangsung 3 hari 3 malam ada 6 tahapan. Antara lain nyantri, siraman, jonggolan, midodareni, ijab kobul, hingga puncaknya upacara panggih.

“Tiap tahapan upacara busananya berlainan, bahkan di buat agar para hadirin pangling dengan paesan sebelumnya. Dan sebagai puncaknya paes agung dalam upacara panggih paes di buat sedemikian rupa sehingga pasangan pengantin ibarat pasangan dewa Kamajaya – Komaratih yang ngejawantah,”. Tutur sumber yang enggan di sebut namanya itu.

Catatan: Penyunting merupakan cucu ke-5 dari R.Ay Dinar Woeryanto.

(Gosipnesia.com, Solo – Radityo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *